Outdoor Class : River of the life


Dibawah pohon pinus, -Kak Naomi- salah seorang fasilitator outdoor class pagi itu mengarahkan kami untuk mengingat beberapa peristiwa penting dalam hidup yang kemudian digambarkan dalam ilustrasi sungai. Sungai yang penuh dengan bebatuan bisa jadi menggambarkan lika-liku kehidupan yang begitu berat dijalani. Begitupula jika sungai dipenuhi bunga yang indah bermekaran bisa jadi menggambarkan kebahagiaan di masa itu. Lika-liku kehidupan dan kebahagiaan tentu melibatkan beberapa orang di dalamnya. Ada yang sudah dimaafkan, namun ada pula yang masih tersisa rasa kecewa yang mendalam. Maka ilustrasinya bisa lebih berkembang lagi, tergantung dari kreativitas para peserta.

 

Setelah menceritakan alur kehidupan dalam ilustrasi sungai, fasilitator selanjutnya -Kak Therry- mengajak kami menuju tempat yang indah dan menenangkan. Kami menyebutnya air terjun perdamaian, meski nama sebenarnya air terjun Parangbugisi. Sebelum memulai perjalanan, Kak Therry memberikan tantangan kepada kami yang terbagi dalam tiga kelompok. Tiap kelompok harus memastikan lilin yang dipegang oleh salah satu anggota kelompok tetap menyala selama perjalanan. Perjalanan menuju air terjun tidaklah mudah, kami dihadapkan dengan turunan dan tanjakan curam yang silih berganti dengan jalanan yang licin. Keadaan itu mengingatkan pada river of the life kami. Penuh tantangan dan  harapan.


Berlatar air terjun yang megah tepat dibelakang kami, Kak Therry kembali menginstruksikan untuk bercerita. Cerita tentang siapa orang yang ingin kamu mintai maaf, dan siapa orang yang ingin kamu maafkan. Kembali saya melihat river of the life. Sepanjang sungai kehidupan yang saya gambarkan, benar ada seseorang yang sangat ingin saya maafkan atas rasa kecewa yang telah saya alami, dan benar pula ada seseorang yang selalu saya kecewakan atas apa yang telah saya perbuat. Saya kemudian menceritakan beserta alasannya. Begitupun dengan teman-teman yang lainnya.


Mata saya terpaku pada deretan acak beberapa batu besar sekitaran air terjun. Ditemani suara air yang terjun bebas di bebatuan. Tampak pula adik Deela yang sedang berenang indah kemudian tertawa senang dengan kebebasan yang dia rasakan. Kebebasan itu, juga saya rasakan. Bebas dari rasa kecewa yang mengungkung hati hingga kadang sakit masih terasa. Saya telah menceritakan kekecewaan yang telah saya rasakan, dan saya memaafkan itu. Benar, memaafkan itu tidak semudah mengucapkan melalui lisan. Butuh waktu, butuh keyakinan dan keikhlasan.
 
Dengan menceritakan masalah, konflik ataupun rasa kecewa yang saya rasakan ibarat mengeluarkan radikal bebas berenergi negatif dari dalam diri saya, yang kemudian tertangkap oleh energi positif dari teman yang merespon dan menjadikan energi negatif tersebut diredam laiknya antioksidan. Semakin sering bercerita, semakin banyak energi negatif yang keluar, hingga akhirnya terkumpul hikmah-hikmah dari kisah yang telah terjadi yang dapat menjadikan diri lebih kuat dan bijak dalam menghadapi masalah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hakuna Matata

Building Trust

Resilience